Prahara Sosial Media

Home / Politik dan Kebangsaan / Prahara Sosial Media

Dunia Sosial media menjadi dunia yang sangat akrab bagi masyarakat global, sebut saja Facebook, Twitter yang pelanggannya telah me nyentuh angka ratusan juta dengan omset miliaran USD. Dunia Sosial Media menjadi wahana berekspresi tanpa tatap muka, orang dapat muncul menjadi sesiapa saja sekalipun bertolak belakang dengan kondisi real siapa dirinya.

Dunia Sosial media merupakan produk dari Globalisasi dan Kemajuan teknologi yang mirip maltusian yang kemajuannya bak deret geometri menandingi kemajuan wisdom penggunanya. Sehingga seringkali bagai pisau bermata dua penggunaan sosmed dapat menjadi alat positif untuk menyebar nilai2 membangun atau justru menjadi bumerang bagi pengunanya yang terkadang kurang bijak dalam mengemukakan pendapat lewat sosmed yang bahkan dapat berujung Cyber Crime sehingga membuat si user harus dibui.

Akhir-akhir ini dunia media sosial dihebohkan dengan berbagai isu transdimensi, mulai dari aksi teror lewat media sosial pada televisi DAAI TV, tweet Donald Trump yang dianggap mengerikan, keluhan SBY atas kondisi bangsa ini atau cecuitan Fahri Hamzah yang sedang digugat oleh kawan-kawan kita yang menjadi TKI di luar negeri yang dianggap bernada merendakan hingga merebaknya iso berita bohong atau Hoax yang membuat pemerintah seakan gemas untuk segera membasminya.

Prahara Dunia Sosmed menjadi penting untuk dibicarakan, mengingat produk ini dihasilkan dari surplus demokrasi yang sedang melanda bangsa Indonesia khususnya. Dimana orang benar-benar memiliki kebebasan untuk mengutarakan gagasan dan pikirannya baik berupa kritik saran yang membangun atau sekadar mengeshare kegiatan sehari-harinya.

Dalam Era Sosmed ini, Maka pemerintah sebagai pembuat kebijakan, patutnya untuk tidak takut, tetapi lebih waspada. Karena seringkali pertimbangan kebijakan dapat menghasilkan opsi2. Baik yang best choice tapi cost socialnya tinggi, berpotensi memantik faktor surplus demokrasi untuk merespons baik melalui sosmed atau melalui demonstrasi. Atau second best choice yang mengompromikan beberapa hal tetapi social cost nya rendah. Atau sekedar Third best choice yang hanya berpikiran agar publik senang tetapi negara seringkali harus berkorban.

Pemerintah yang bijak dapat menentukan mana yang terbaik dan apa langkah antisipatifnya. Tidak hanya berkomentar dan mengatakan publik harus menahan diri dan tidak sedikit2 protes. Bagi pengguna sosmed pula, patutnya untuk lebih bijak untuk menggunakan sosmed sebagai media positif yang dapat memberi sumbangan positif dalam era surplus demokrasi di Indonesia, sehingga kegaduhan akibat sosmed tidak berulang kembali terjadi.

(Moh. Mualliful Ilmi – Head of HIMKA ITS 16/17)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *