DISTRIBUSI TERARAH SUMBER ENERGI PRIMER, LANGKAH MERAIH KEDAULATAN ENERGI NASIONAL DI MASA DEPAN

Home / Politik dan Kebangsaan / DISTRIBUSI TERARAH SUMBER ENERGI PRIMER, LANGKAH MERAIH KEDAULATAN ENERGI NASIONAL DI MASA DEPAN

Negara Indonesia dihadapkan pada ketergantungan pada energi fosil sebagai sumber energi utama, Ketergantungan Indonesia menjadi Suatu gejala yang cukup merisaukan bagi keberlanjutan penyediaan energi jangka panjang. Di bagian hulu Indonesia dihadapkan pada masalah eksplorasi yang berujung pada minimnya produksi dan tingginya rasio impor. banyaknya mafia migas semakin membuat negara harus menelan rugi yang tidak sedikit.

harga minyak internasional yang cenderung fluktuatif yang menyebabkan APBN tidak sehat karena negara masih harus mensubsidi BBM dalam jumlah besar, Dikhawatirkan program-program pembangunan yang semestinya menjadi prioritas, justru ternomorduakan.

Indonesia menghabiskan 284 Triliun untuk mensubsidi BBM, hal tersebut menjadi ironi jika ditelisik bahwa dana untuk pengentasan kemiskinan hanya menelan 134,5 Triliun. Padahal sebagian besar subsidi BBM tersebut dinikmati oleh mobil pribadi yang mencakup sekitar 53% pada tahun 2014.

Beberapa tahun belakangan, Indonesia terlihat akan beralih ke Sumber daya gas. sudah beberapa program konversi ke gas dilaksanakan, mulai dari penggunaan gas untuk rumah tangga, pembangkit listrik dengan bahan bakar gas, dibangunnya pipa-pipa gas di Pulau jawa dan beberapa usaha baik lainnya.

Tetapi sekarang pertanyaannya adalah apakah Indonesia dapat dikatakan memiliki ketahanan nasional jika memakai gas? Berdasar pada uraian yang dipaparkan oleh pemerintah dalam Outlook Energi 2014 bahwa Untuk skenario dasar, net impor gas terjadi mulai tahun 2023. Gas impor dalam bentuk LNG dan produksi CBM akan menjadi penopang kebutuhan gas di masa depan jika produksi gas domestik tidak dapat ditingkatkan. Kebutuhan gas impor dalam bentuk LNG diperkirakan akan dimulai pada tahun 2018 dan jumlahnya akan meningkat dari 68 BCF menjadi 863 BCF pada 2035. Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan gas sebagai tumpuan energi nasional juga berujung pada ketidak-sustainable-an.

Ketika dilanda kegelisahan akan goyahnya ketahanan energi nasional, sesungguhnya Indonesia memiliki kekayaan energi Baru terbarukan sumber daya panas bumi atau geothermal, Potensi panas bumi Indonesia merupakan yang terbesar di dunia dan  mencapai 29.038 MW. baru 4 % yang telah dimanfaatkan pemerintah melalui pembangkit tenaga listrik tenaga panas bumi (PLTP). Tetapi kini Pemerintah terlihat mulai serius mengembangkan panas bumi, dimana dari update terakhir tahun 2013 kapasitas terpasang PLTP telah mencapai 1.343,5 MW.  Walaupun jika dilihat, jumlah ini masih jauh dari target 9.500 MW pada tahun 2025.

Dibandingkan dengan sumber energi fosil, panas bumi memiliki banyak keuntungan. Dari sisi ekonomi komponen biaya produksi PLTP jauh lebih murah karena tidak ada komponen biaya bahan bakar serta resiko fluktuasi biaya akibat harga bahan bakar yang tidak stabil dan cenderung meningkat. Dari sisi lingkungan, PLTP lebih ramah lingkungan karena emisi yang dihasilkan sangat rendah yaitu sekitar 180 Kg/MWh, lima kali lebih rendah dibandingkan emisi yang dihasilkan PLTU yang hampir mencapai 1000 Kg/MWh Dalam jangka panjang keberlanjutan PLTP lebih terjamin mengingat panas bumi merupakan energi yang terbarukan. Bila diakumulasi secara total dari hulu hingga hilir, area lahan yang dibutuhkan untuk PLTP lebih efisien yaitu 0,4 – 3,2 hektar per Megawatt dibandingkan PLTU yang mencapai 7,7 hektar per Megawatt.

Sayangnya proses pengembangan geothermal dihadang banyak kendala. karena proses pengembangan panas bumi memiliki resiko yang cukup tinggi, biaya operasi di bagian hulu sangat besar, sehingga memerlukan investor dengan jumlah modal yang besar. Minimnya sumber daya ahli dan mayoritas lapangan berada di kawasan hutan suaka alam maupun hutan konservasi. Serta kebijakan pengeluaran Izin Usaha Pengusahaan (IUP) panas bumi sangat lama.

Masalah-masalah pokok  dalam pengembangan panas bumi di Indonesia tersebut seharusnya dapat diatasi. Agar potensi panas Bumi Indonesia dapat segera dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Dari paparan di atas, terlihat jelas bahwa dibutuhkan distribusi terarah dalam pemakaian sumber-sumber energi tersebut. Agar sumber-sumber energi yang semakin menipis tersebut dapat dimanfaatkan secara efisien. cadangan minyak yang makin menipis mengharuskan penggunaannya harus diminimalisir, sudah seyogyanya dalam jangka pendek penggunaan minyak seharusnya hanya dikonsentrasikan pada penggunaannya sebagai bahan bakar sepeda motor yang secara ekonomis tidak memungkinkan untuk menggunakan bahan bakar gas. Sedangkan penggunaan sumber enegi gas harus dititikberatkan pada penggunaannya sebagai bahan bakar kendaraan roda empat atau lebih dan demi memenuhi kebutuhan energi rumah tangga dalam bentuk kompor gas. sedangkan dalam kasus power plant atau sumber daya listrik, sudah saatnya indonesia beralih ke geothermal, selain murah secara ekonomis dan ramah lingkungan, geothermal merupakan sumber energi yang sustainable. langkah distribusi terarah sumber energi primer ini harus diimplementasikan dalam kebijakan-kebijakan energi kedepannya, demi mencapai ketahanan nasional di masa depan.

(Moh. Mualliful Ilmi – Head of HIMKA ITS 16/17)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *