Proteksionisme, Diaspora dan Masa Depan Migran Muslim

Home / Politik dan Kebangsaan / Proteksionisme, Diaspora dan Masa Depan Migran Muslim

Lahirnya Komunitas Muslim di Dunia, tentu tidak terlepas dari Peranan Paham Demokrasi yang menghargai Kesetaraan dan HAM serta arus globalisasi yang menggerakkan penduduk dunia untuk Mobile dari satu tempat ke tempat yang lain. Bebasnya arus barang, tenaga kerja, lapangan pekerjaan dan Pendidikan di negara-negara maju membuat Umat Islam yang merupakan bagian dari peradaban dunia untuk turut serta dalam arus tersebut.

Tidak sedikit Umat Muslim yang berpindah dari negara asal menuju negara-negara eropa, amerika baik untuk mencari penghidupan ataupun untuk belajar sebagai mahasiswa di Universitas Top Dunia yang berada di kawasan tersebut. Masyarakat muslim yang bermigrasi ke Eropa untuk tujuan mencari penghidupan dan berkarir di sana membuat mereka akhirnya berdiam permanen. Sehingga tidak heran jika di eropa kini menjamur komunitas-komunitas muslim.

Anak-anak kaum muslim yang menetap juga bersekolah di sekolah-sekolah eropa, orang dewasanya juga berkarir di perusahaan-perusahaan eropa atau bahkan menjadi pejabat di lembaga pemerintah di sana.

Tidak dapat dipungkiri, umat Islam telah menuai manfaat dari era Demokrasi-Globalisasi, Penerimaan negara-negara penerima pengungsi muslim untuk menampung mereka juga merupakan bagian dari nilai-nilai demokrasi yang menjunjung tinggi keadilan untuk sesama. Tetapi sayangnya Surplus dan manfaat itu kini dalam titik nadir, lahirnya Kelompok proteksionis di berbagai belahan bumi yang secara terang-terangan berlawanan dengan Globalisasi akan mengancam hal tersebut.

Dapat dilihat dari sikap dan kebijakan trump yang akan menutup gerbang masuknya imigran muslim. di Eropa Partai konservatif Jerman yang menentang kebijakan angela merkel atas pengungsi. Sikap yang sama diperlihatkan oleh kelompok sayap kanan di Prancis.

Era ini menjadi momen yang tepat untuk kelompok muslim anti globalisasi dan lebih mengedepankan prinsip-prinsip yang mereka usung yang cenderung menutup diri untuk mempertimbangkan pandangannya. karena ternyata justru sistem yang kini akan mensubstitusi globalisasi justru meletakkan umat Islam dalam posisi tertindas dan dirugikan.

(Moh Mualliful Ilmi – Head of HIMKA ITS 16/17)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *