REORIENTASI POLITIK PEMUDA: MENGHAPUS APATISME, MENUMBUHKAN SEMANGAT JUANG PEMUDA INDONESIA

Home / Politik dan Kebangsaan / REORIENTASI POLITIK PEMUDA: MENGHAPUS APATISME, MENUMBUHKAN SEMANGAT JUANG PEMUDA INDONESIA

Moh. Mualliful Ilmi

Pembicaraan mengenai pemuda selalu terkait dengan kata-kata Ir. Soekarno, Berikan aku sepuluh orang pemuda,maka akan aku goncangkan dunia, Dr. Yudi Latif mengutarakan bahwa bangsa Indonesia sebenarnya dirintis, dikonsepkan dan diwujudkan kemerdakaannya oleh Para pemuda, peran pemuda di awal-awal era kemerdekaan dan hingga jatuhnya pemerintah orde baru meski selalu mengalami pasang surut, tapi gerakan tersebut selalu mendominasi perpolitikan indonesia, mulai dari gerakan sumpah pemuda, peristiwa rengasdengklok, peristiwa Tritura hingga peristiwa menjatuhkan rezim orde baru.

Pemuda adalah tumpuan kemajuan bangsa. Mereka identik dengan kata perjuangan. Mereka seperti pusaran gelombang yang bergejolak menggerakkan segala sesuatu. Mereka laksana ombak yang menerpa tembok ketidakadilan. Mereka layaknya pelangi, memberikan secercah harapan indah yang muncul menuju cahaya. Bahkan, mungkin setiap apa yang telah ada di dunia tidak terlepas dari peran serta dan kontribusi yang mereka pelopori untuk diciptakan.

Di kalangan para cendekiawan, Pemuda memiliki tiga amanah yang diharapkan menjadi tumpuan mereka dalam bergerak, yaitu sebagai agent of change, iron stock, dan agent of control. Masing-masing dari ketiga amanah tersebut menjadi sebuah tuntutan tersendiri bagi pemuda untuk dilaksanakan.

Ketika melihat ketiga amanah tersebut, menjadi suatu ironi jika melihat begitu vital peran pemuda dalam rangkaian kronologis perjalanan bangsa, Pemuda selalu tampil di garda terdepan dalam setiap momentum-momentum perubahan. Pemuda Indonesia memiliki sejarah patriotik dalam mewujudkan cita-cita Bangsa. Sedangkan ketika menilik realita sekarang, justru sebaliknya, sebagian besar pemuda bangsa Indonesia menjadi garda terdepan dalam demoralisasi bangsa Indonesia.

Selain mengalami demoralisasi, problem terbesar generasi muda Indonesia adalah Disorientasi[1] politik, pada dasarnya disorientasi politik juga mengambil andil dalam lahirnya pemimpin-pemimpin karbitan yang mewarnai dunia perpolitikan bangsa, hal tersebut dapat dilihat dalam realitas politik kita banyak ditemukan pemimpin-pemimpin, yang buta politik dan memiliki orientasi yang negatif dalam menjalani kehidupan politiknya. Kemudian secara tidak langsung disorientasi politik ini menjerembabkan pemilih pemula dalam blunder money politic yang berujung pada terpilihnya pemimpin-pemimpin, yang tidak pro rakyat sehingga merugikan bangsa dan negara.

Disorientasi politik secara tidak langsung pula menyebabkan tidak terkontrolnya penguasa, karena secara historis dapat dilihat, bagaimana pemuda menjadi kekuatan penyeimbang pemerintah, mengadakan kontrol terhadap kinerja pemerintah, menjadi pejuang rakyat di garda paling depan, jika pemuda benar-benar mengalami disorientasi politik mustahil, pergerakan kebangsaan yang mulai tersebut dapat terlaksana.

Disorientasi politik sendiri dapat menyebabkan terkikisnya semangat juang pemuda sebagai dampak dari menjauhnya generasi muda dari perpolitikan kenegaraan, padahal cita-cita politik kenegaraan hanya dapat terlaksana dalam sistem kenegaraan. Jadi bukan tidak mungkin bahwa di masa yang akan datang, bangsa Indonesia akan mengalami keberhentian regenerasi, jika generasi muda yang ada tidak memiliki Orientasi politik yang mumpuni, regenerasi tersebut terhenti karena sudah tidak lagi yang dapat melanjutkan estafet kepemimpinan, karena dalam kepemimpinan tersebut dibutuhkan sebuah orientasi politik yang matang.

Selain problematika disorientasi politik terdapat problem apatisme terhadap politik yang menyebabkan loyo-nya semangat juang generasi muda, perhatian generasi muda bukan lagi tertuju pada isu-isu kebangsaan, tapi lebih mengarah pada hal-hal yang bersifat keduniawian, popularitas, citra dan hal-hal negatif lainnya, sehingga tidak mengherangkan jika dijumpai pergerakan generasi muda banyak diwarnai anarkisme, arogansi yang justru mencoreng citra baik sejarah kepemudaan bangsa kita.

Hal yang perlu dilakukan untuk merespons realita negatif dari pemuda Indonesia sekarang adalah langkah Reorientasi Politik, reorientasi politik sendiri bermakna sebagai suatu upaya untuk meluruskan kembali orientasi generasi muda dalam hal politik, Gabriel Almond  (1966) membagi Orientasi individu terhadap politik dalam sejumlah komponen yakni Orientasi Kognitif  berupa pengetahuan, keyakinan, Orientasi Afektif  berupa perasaan terkait, keterlibatan, penolakan dan sejenisnya tentang obyek politik dan Orientasi Evaluasi atau penilaian dan opini tentang obyek politik yang biasanya melibatkan nilai-nilai standar terhadap obyek politik dan kejadian-kejadian.

Dari ketiga orientasi politik di atas, didalamnya terdapat transfer knowledge tentang politik yang ada di suatu negara, proses reorientasi politik sangat perlu dilakukan ketika melihat banyak terjadinya apatisme politik di kalangan generasi muda, yang berdampak lahirnya generasi muda yang buta politik dan tidak memiliki orientasi politik bahkan merasa anti dengan politik, mindset negatif tersebut kemudian membentuk karakter dalam diri sebagian generasi muda bangsa, sehingga mereka menjauh dari realitas politik dan menjatuhkan pilihan yang salah pada sebuah pesta demokrasi.

Reorientasi politik tersebut membutuhkan segenap elemen bangsa, perguruan tinggi menjadi lembaga paling bertanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai orientasi politik tersebut, di mana tridharma perguruan tinggi yang mengamanahkan perguruan tinggi untuk melakukan tugas pendidikan terhadap generasi bangsa agar menjadi generasi yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan dan pembangunan bangsa, jika reorientasi politik ini sukses, impian bangsa Indonesia menjadi bangsa yang jaya sudah bukan hanya mimpi, karena mayoritas pemuda Indonesia memiliki semangat juang yang membara di dalam dada untuk berbuat yang terbaik demi negara.

[1] Kehilangan arah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *