MENELADANI POLITIK KERAKYATAN HATTA KITA

Home / Politik dan Kebangsaan / MENELADANI POLITIK KERAKYATAN HATTA KITA

Tidak berlebihan jika peniliti asal Australia Mavis rose dalam bukunya Indonesian Free : Mohammad hatta political biography menyebutkan bahwa Hatta berdiri di bawah bayang-bayang soekarno, tetapi dia mampu menjadi lumbung kekuasaan, begitu pula metro tv membuat suatu acara khusus untuk mengenang pribadi sang bapak bangsa dalam Mata Najwa yang berjudul Belajar dari bung hatta.

Dari sekian the founding fathers¸Mohammad Hatta adalah yang mampu mempertahankan martabatnya hingga wafat, beliau tidak meninggal dalam penghinaan, tidak serupa dengan nasib Soekarno, Sjahrir dan Tan Malaka, mereka harus mengisi sisa-sisa hidupnya dengan menikmati perlakuan keji bangsanya sendiri, padahal di sisi lain mereka adalah tokoh politik yang menjadi orang paling berjasa dalam meraih kemerdekaan kita.

Dalam Membicarakan bung hatta, ada banyak hal yang harus digarisbawahi, diperhatikan secara cermat, pribadinya yang kompleks dan menarik untuk dikaji, menjadikannya menjadi salah satu tokoh yang paling banyak ditulis biografinya, bahkan mavis Rose menuturkan dalam bukunya, meskipun dia tidak pernah bertemu dengan hatta, kepribadian hatta yang dia baca membuatnya tergerak untuk mengabadikan kehidupan sang bapak koperasi tersebut dalam bukunya.

Pribadinya yang kompleks membuat Hatta sarat akan Keteladanan,  banyak hal yang dapat diuraikan dari sudut pandang tersebut, yang paling mencolok dari sikap hatta adalah pengunduran dirinya sebagai wakil presiden pada akhir tahun 1956, sontak pengunduran tersebut mengagetkan banyak kalangan, tawaran untuk manggung kembali dalam perhelatan politik tanah air ditampiknya, jabatan Komisaris BUMN tidak menggoyahkannya, uang pensiun yang pas-pasan ditambah beberapa rupiah hasil royalti penulisan bukunya berusaha ia atur dan manage agar cukup membiayai hidupnya yang sederhana.

Sikap hatta mundur dari jabatan wakil presiden dan menolak untuk dipanggungkan kembali dalam sandiwara perpolitikan, seakan bertolak belakang dengan realitas elit negara kita pada waktu sekarang, para elit seakan menutup mata dari keteladanan tersebut, mereka justru memperebutkan kursi, mengamanka posisi, menumpuk harta dan memperkaya diri, melupakan tugas utama untuk mengabdi pada rakyat negeri.

Kesederhanaan dan pribadi Hatta yang elegan dan penuh suritauladan dalam memandang jabatan tidak terlepas dari perkataan beliau yang dikutip dalam buku Bung Hatta : pribadinya dalam kenangan, bahwa beliau bergerak untuk rakyat dan akan selalu berdiri dalam misi tersebut. Setiap langkah dan kebijakan politik tersebut tidak pernah terlepas dari amanat penderitaan rakyat. Pasal 33 yang terdapat dalam rahim Undang-undang Dasar merupakan usulan beliau, tidak dapat dipungkiri bahwa pasal tersebut menjadi pasal yang paling berjasa dalam mengawal ekonomi kerakyatan dalam negeri ini, mulai dari sektor Migas hingga sektor industri terkecil sekalipun. Bahkan Pasal 33 menjadi dasar lahirnya sebuah organisasi ekonomi berbasis kerakyatan yang didasari oleh rasa saling tolong-menolong dan gotong-royong yang diilhami dari sikap-kepribadian dan kearifan lokal bangsa Indonesia yakni Koperasi.

Tidak berlebihan jika Mohammad Hatta dijuluki sebagai the guardian of national conscience (Pengawal hati nurani rakyat), sikapnya yang selalu membela rakyat, kehidupan sederhananya yang selaras dengan realitas kondisi rakyat, atau ide briliannya bersama Muhammad yamin memasukkan pasal-pasal kebebasan Rakyat untuk mengeluarkan pendapat dan mendapatkan hak-hak dasarnya atau jiwanya yang selalu mengilhami bahwa Politik bukan untuk ajang berebut kekuasaan tetapi sebagai panggilan jiwa untuk mengabdi dengan setulus hati untuk menyampaikan dan mewujudkan amanat rakyat yang seringkali terabaikan dan tersakiti.

(Moh. Mualliful Ilmi – Head of HIMKA ITS 16/17)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *