Apalah Arti Pendidikan di Negeri Kita

Home / Politik dan Kebangsaan / Apalah Arti Pendidikan di Negeri Kita

Pendidikan adalah pilar utama yang akan menghantarkan setiap bangsa untuk melesat menuju masa depan yang maju. Pendidikan adalah fondasi dan kerangka bangunan kemajuan peradaban. Maka tidaklah salah bila dari sekian tujuan negara yang dimuat dalam preambule UUD 1945 adalah menyiratkan tentang terwujudnya pendidikan yaitu konsep mencerdaskan kehidupan bangsa.

Konsep tersebut hingga kini belum ada yang dapat me definisikan. Kehidupan yang cerdas seperti apa? Bangsa yang dianggap cerdas seperti apa? Ukuran cerdas itu seperti apa. Sehingga roadmap dan arah proses pendidikan kita ingin dibawa kemana belum jelas. Hal tersebut diperuncing dengan sikap para pendidik yang seringkali belum mampu totalitas untuk memberikan pendidikan bagi anaknya. Status pendidik sebagai profesi, menjadikan sebagian dari mereka menjadikan posisi guru hanya sekadar ladang untuk mencari penghidupan bukan sarana mengabdi untuk mencetak generasi bangsa di masa depan. Sehingga tidak mengherankan meski anggaran pendidikan dibuat 20% APBN dan dari tahun ke tahun mengalami kenaikan mengikuti angka APBN yang terus bertumbuh tidak memberikan hasil yang signifkan dalam pembangunan manusia Indonesia atau malah menciptakan kemunduran di berbagai aspek yang cukup vital. Yang menjadi pertanyaan bagi dunia pendidikam kita adalah apakah dengan kenaikan anggaran pendidikan kita mendapatkan fasilitas memadai? Mendapatkan Learning Process lebih bagus? Guru yang lebih komunikatif? Staff Tenaga Pendidikan yang lebih Profesional? Pelayanan institusi yang lebih manusiawi? Saya rasa masih jauh panggang dari api.

Ketertinggalan pendidikan kita terlampau jauh, China, India, Malaysia, Thailand mereka telah mengupgrade pendidikan mereka melalui sekolah2 berkelas dunia dan universitas2 yang mereka dorong dengan dana hibah riset yang tinggi guna mendongkrak publikasi dan menghantarkan mereka bertengger di posisi 300 besar hingga 50 besar dunia. Sebut saja Peking University, Tsinghua University, University of Malaya, Chulalongkorn University dan lainya. Dengan kondisi tersebut mereka mendapatkan surplus berupa perbaikan indeks pembangunan manusia yang cukup tinggi.

Maka menjadi perlu untuk mereformasi sistem pendidikan kita. Agar tidak terseok2 mengejar ketertinggalan dari kemajuan zaman. Yang menjadi pertanyaan besar dari pendidikan kita adalah mengapa pendidikan kita sejauh ini tidak menghasilkan perubahan yang signifikan?

Sistem pendidikan kebanyakaj sudah baik dan dibuat untuk meningkatkan kreativitas pelajar. Tetapi iklim akademik lah yang masih harus dibangun. Iklim akademik kita selama ini mematikan kreativitas. Banyak pelajaran yang menyenangkan dan harusnya mengajarka siswa untuk menggunakan kemampuan analitis dan logika tetapi malah dibuat untuk menghafal. Atau iklim akademik yang ada mematikan kepercayaan diri siswa dengan mengudge kualitas pertanyaan siswa sehingga mereka enggan bertanya. Iklim akademik kita telah menciptakan jarak antara pelajar dan pembelajar sehingga pola interaksi horizontal di antara keduanya menjadi tidak makaimal. Dimana seringkali aspek kesopanan adalah segalanya, padahal harusnya seorang pembelajar memosisikaj dirinya bukan sekadar sebagai guru tetapi sebagai teman yang mau mendengar keluhan, curhatan dan menjawab keingintahuan siswa. Inilah learning process yang baik, sehingga pendidik dan siswa dapat berlari bersama mengejar mata pelajaran yang harus dipelajari. Bukan sekadar guru memaparkan dikelas lalu selesai.

Dalam dunia Universitas, sudah cukuo baik dengan membuat status PTN BH yang diharapkan mampu mendorong universitas untuk berinovasi memperbanyak mitra dan menambah lahan pendapat sehingga mereka dapat melakukan perbaikan dengan aset yang dimiliki. Tidak dipungkiri bahwa memang seharusnya universitas diarahkan untuk menjadi Industri yang memiliki keunggulan kompetitif. Karena hal tersebut merupakan kunci kenajuan mereka, karena dari situ kita akan mendapat dana besar untuk riset dan perbaikan fasilitas. Tetapi bukan berarti membebankan pendapatannya pada mahasiswa dengan mematok UKT yang tinggi tetapi lebih menempuh untuk bermitra dengan lembaga riset atau perusahaan atau membuat badan usaha milik universitas yang laba nya menjadi pendapatan universitas. Langkah ini yang jarang ditempuh, karena ingin mendapatkan pendapatan secara instan maka orientasi nya serinfkali dengan menaikan UKT. Maka dari itu peningkatan publikasi riset menjadi minim. Yang perlu digaris bawahi dalam dunia Universitas adalah masih menjamurnya kegiatan yang tidak menunjang aktivitas akademik dan memudarkan iklim akademik yang ada. Dapat diambil contoh, sistem senior Junior yang masih diwarnai perpeloncohan atau sistem kaderisasi yang masih memuat kegiatan tak rasional. Dan masih banyak lagi. Kegiatan tersebut layaknya untuk dievaluasi dan diarahkan pada hal yang positif dan menunjang proses belar di Perguruan Tinggi. Pendidikan kita masih jauh dari layak, beberapa perguruan tinggi masih berkubang dalam under quality, rasio dosen mahasiswa yang rendah, sistem IT yang belum baik, kualitas pengajar yang rendah, dana riset yang minim, fasilitas yang kurang memadai, motif mendidik yang salah, kegiatan kemahasiswaan yang terkadang bermakna hingga praktik korupsi pejabat pendidikan. Maka reformasi struktural dan menyeluruh perlu dilaksanakan. Kita harus belajar dari negara-negara maju dan sesama negara berkembang yang memiliki nasib leboh baik dalam mengelola pendidikannya. Sehingga mimpi mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud.

(Moh. Mualliful Ilmi – Head of HIMKA ITS 16/17)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *